Khotbah Akhir Tahun, Pdt. Karyono Ajak Jemaat Lepaskan Masa Lalu dan Sambut Karya Baru Tuhan
Bojonegoro — Nafiri28.com. Menutup tahun 2025, Gembala Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS), Pdt. Karyono, menyampaikan pesan rohani yang kuat dalam ibadah akhir tahun yang digelar pada Rabu malam, 31/12/2025, mulai pukul 19.30 WIB hingga selesai.
Dalam khotbah yang diambil dari Yesaya 43:8–19, Pdt. Karyono menegaskan pentingnya umat Tuhan melepaskan beban masa lalu agar dapat mengalami karya Allah yang baru di tahun yang akan datang.
“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah jam 12 malam. Tetapi firman Tuhan mengajar kita apa yang harus dilepaskan dan apa yang harus dipersiapkan,” ujar Pdt. Karyono di hadapan jemaat.
Firman Tuhan untuk Umat di Tengah Ketidakpastian
Pdt. Karyono menjelaskan bahwa Yesaya 43 ditulis dalam konteks bangsa Israel yang hidup dalam pembuangan, penuh tekanan dan ketidakpastian. Meski demikian, Allah tetap menyatakan kasih dan kuasa-Nya kepada umat-Nya.
Menurutnya, kondisi tersebut relevan dengan situasi masa kini, ketika banyak orang menghadapi tantangan ekonomi, sosial, dan masa depan yang tidak pasti.
“Tuhan berbicara kepada umat yang bingung, lemah, bahkan seperti memiliki mata tetapi tidak melihat dan telinga tetapi tidak mendengar. Namun Tuhan tetap menyebut mereka sebagai saksi-Nya,” jelasnya.
Jangan Terikat Kejayaan dan Luka Masa Lalu
Menyoroti ayat 18, Pdt. Karyono menekankan bahwa perintah Tuhan untuk tidak mengingat hal-hal yang dahulu bukan berarti melupakan sejarah, melainkan tidak hidup terikat oleh masa lalu.
Ia mengingatkan bahwa tidak sedikit orang terjebak pada kejayaan lama, luka lama, maupun kegagalan masa lalu, sehingga menghambat pertumbuhan rohani.
“Hati-hati, kejayaan masa lalu pun bisa menjadi jerat. Banyak orang ingin berkat baru, tetapi tidak mau melepaskan yang lama,” tegasnya.
Ilustrasi Petani dan Rumah Penuh Barang
Untuk memperjelas pesannya, Pdt. Karyono menggunakan ilustrasi seorang petani yang tidak mungkin menanam benih baru jika sawah masih dipenuhi jerami sisa panen lama. Jika dipaksakan, pertumbuhan akan lambat dan hasil tidak maksimal.
Ia juga mengibaratkan kehidupan manusia seperti rumah yang penuh barang lama. Meski barang baru terus masuk, rumah tetap sesak karena tidak pernah dibersihkan.
“Benih baru butuh tanah yang bersih. Yang baru dari Tuhan tidak akan bertumbuh maksimal jika hati masih penuh dengan perkara lama,” ujarnya.
Menyambut Tahun Baru sebagai Musim Baru
Mengutip Yesaya 43:19, Pdt. Karyono menegaskan bahwa Tuhan sedang membuat sesuatu yang baru, bahkan di tengah “padang belantara” kehidupan.
Ia mengajak jemaat untuk tidak sekadar memasuki tahun baru secara kalender, tetapi memasuki musim baru bersama Tuhan, dengan hati yang dilepaskan dari beban masa lalu.
“Ketika jam 12 tiba, jangan hanya masuk tahun baru, tetapi masuklah musim baru bersama Tuhan,” pungkasnya.
Ibadah akhir tahun tersebut berlangsung dengan khidmat dan ditutup dengan doa syukur serta penyerahan diri menyongsong tahun 2026.
(Red)



Comments
Post a Comment